Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘pendidikan’

Pendidikan di Indonesia

Hari Kamis, 12 Agustus 2010 kemarin saya mengikuti seminar mengkritisi APBN 2011 di Balai Sidang UI Depok. Disini saya ingin berbagi pengetahuan yang saya dapat dari seminar tersebut di fokuskan dalam bidang pendidikan dengan pembicara Paulus Wiroutomo selaku Guru Besar Sosiologi UI.

Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia :

pen·di·dik·an n proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dl usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik;

Fakta yang terjadi di Indonesia saat ini adalah begitu menyedihkannya keadaan pendidikan bagi rakyat. Kebanyakan orang menarik kesimpulan sendiri bahwa penyebab terpuruknya pendidikan di Indonesia adalah masalah biaya, fasilitas, dan tenaga pengajar. Tapi apakah benar demikian yang terjadi? Sebab negara kita sudah meng-anggarkan sekitar 20% dari APBN untuk pendidikan dimana hal ini juga dilakukan oleh negara-negara yang pendidikannya maju.

Mari kita berfikir ulang, menurut pak Paulus sesungguhnya ada 2 krisis yang dihadapi oleh pendidikan di Indonesia:

  • Krisis Logistik, yaitu krisis yang berhubungan dengan pengadaan, perawatan, distribusi, dan penyediaan (untuk mengganti) perlengkapan, perbekalan, dan ketenagaan dalam pendidikan -kasarnya berhubungan dengan kebutuhan akan biaya-
  • Krisis Fungsional, yaitu krisis yang berhubungan dengan “tujuan hakiki” dari pendidikan tersebut

Dalam hal pemenuhan logistik, ada 2 prinsip yang harus kita ingat:

  • Prasyarat dasar. Pendidikan tidak akan bisa berjalan tanpa adanya pemenuhan logistik.
  • “Necessary but not sufficient”, diperlukan namun tidak cukup. Maksudnya adalah pemenuhan hal-hal yang berkaitan dengan logistik memang dibutuhkan namun hal itu saja tidak cukup, diperlukan keselarasan dalam berjalannya pemenuhan kebutuhan logistik dan fungsi dari pendidikan tersebut.

Krisis fungsional pendidikan disini adalah tidak tercapainya tujuan hakiki dari fungsi pendidikan, saya akan jabarkan fungsi pendidikan dan krisis yang dihadapi saat ini:

  1. Pendidikan seharusnya membuat orang yang mengenyamnya menjadi tidak bodoh, namun sering dijumpai orang-orang yang masih bodoh walaupun sudah mengenyam pendidikan. Hal ini dikarenakan banyaknya institusi pendidikan yang hanya menjual gelar bukan ilmu.
  2. Pendidikan seharusnya membuat orang yang mengenyamnya menjadi tidak miskin, namun tidak jarang kita jumpai orang berpendidikan yang hidup dalam kekurangan dan ketidaklayakan. Hal ini dikarenakan jumlah penggangguran tergolong banyak.
  3. Pendidikan seharusnya membuat orang yang mengenyamnya menjadi mandiri, namun banyak sarjana S1 yang karena ketidakmampuannya mendapat pekerjaan sehingga memutuskan untuk kembali meneruskan studi ke S2 dan lalu ke s3. Hal ini menunjukkan ketidakmandirian ‘jebolan’ pendidikan Indonesia.
  4. Pendidikan seharusnya membuat orang yang mengenyamnya meningkatkan apa yang disebut “citizenship” atau bisa dikatakan sebagai perasaan sadar akan kewajiban dan hak, namun berapa banyak kita temui petinggi-petinggi negara ini ataupun suatu perusahaan yang bergelar ini itu melakukan korupsi? Ini menjadi bukti jelas pendidikan di Indonesia belum dapat memenuhi tujuan yang diharapkan.
  5. Pendidikan seharusnya membuat orang yang mengenyamnya menjadi lebih baik dalam kepribadian, baik moral, etika, maupun estetika. Sepertinya tidak perlu disebutkan lagi fakta yang mendukung betapa pendidikan di negeri ini belum mampu mengatasi krisis fungsional yang dihadapi.

Lalu apakah yang terjadi  jika suatu negara tidak mampu mengatasi krisis fungsional dalam pendidikannya?

  1. Ritualisme/alienasi, dimana seseorang dalam mendapat pendidikan sudah tidak mengetahui lagi apa fungsi dari pendidikan tersebut hanya berfikir bahwa pendidikan merupakan ritual semata. Sebagai contoh: siswa-siswi kelas 3 sma biasanya di ‘alienasi’ oleh sekolah mereka demi mendapatkan nilai uan yang baik, mereka tidak belajar untuk mendapatkan ilmu melainkan untuk dapat lulus UAN sehingga tidak sedikit sekolah yang memberikan metode pengerjaan soal dimana diharapkan siswa tersebut menghafal soal bukan belajar ilmu.
  2. Pemborosan, karena membayar mahal untuk pendidikan namun tidak mencapai tujuannya.
  3. Pedagogi hitam, atau juga dapat disebut dengan ‘sekolah sebagai tempat mengadili’. Banyak tenaga pengajar yang menjudge murid salah jika hal yang diungkapkan bertentangan dengan pendapat mereka.
  4. Eksploitasi
  5. Disintegrasi sosial dan nasional
  6. Historical anesthesia

Nah jika begitu ada 2 pertanyaan besar:

  • Apakah prioritas kita? Anggaran sebesar 20% atau perumusan fungsi pendidikan?
  • Bagaimana merencanakan pembangunan pendidikan yang efektif (fungsional) tetapi secara logistik efisien?

Mari kita pikirkan bersama.

Selain itu, ada beberapa poin yang dapat membantu mengatasi krisis logistik:

  • Bank/pinjaman Pendidikan, dimana seseorang dapat meminjam uang demi kepentingan pendidikan dan dapat dibayar setelah ia selesai dengan pendidikannya (diharapkan pendidikan mampu melepaskan seseorang dari jerat kemiskinan)
  • Sosialisasi, sosialisasi program-program pemerintah seperti BOS harus lebih me’rakyat’
  • Pemberantasan penyelewengan, hal ini sangat penting dan vital serta berpengaruh dalam mengatasi krisis logistik.

Demikian tulisan saya kali ini, semoga menambah pengetahuan teman-teman yang membacanya : )

Hidup Mahasiswa! Hidup Pendidikan Indonesia!

Read Full Post »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers