Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2011

Tahun ini gue kembali membuat poster publikasi untuk calon ketua BEM FKG UI, dimana tahun lalu calon yang gue buatkan media publikasinya adalah Agit dan tahun ini Raedi 🙂 Let’s hope for the best BEM FKG UI in Raedi

 

Poster Publikasi 1

 

Poster Publikasi 2

Baliho

 

Read Full Post »

Just survive or Succeed

Read Full Post »

 

Barry Likumahuwa makes me fall in love with this song 🙂

Read Full Post »

Read Full Post »

Sukses dan Etika

Siapa sih yang gamau sukses?

Sudah pasti semua orang menginginkan kesuksesan, dan setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam mengusahakan kesuksesan tersebut.

Dalam hal karier, sukses bisa diartikan oleh sebagian orang sebagai jabatan tinggi yang tentu saja juga dibarengi dengan penghasilan yang besar. Saya sebagai mahasiswa kedokteran gigi, ingin membahas kesuksesan itu dari bidang saya walaupun saya yakin value yang ingin saya share melalui paparan mengenai profesi dokter gigi ini akan dapat diterapkan di semua jenis pekerjaan.

Dokter gigi yang sukses adalah dokter gigi yang dipercaya banyak orang karena keahliannya dalam menguasai satu bidang spesialisasi sehingga tentu saja penghasilannya juga besar. mengapa saya menyebutkan menguasai satu bidang spesialisasi bukan menguasai semua? Tentu saja karena dokter gigi juga manusia yang terbatas kemampuannya, sehingga untuk dapat menjadi sangat berkompeten dan ahli di satu bidang spesialisasi tersebut maka dokter gigi umum harus mengambil kuliah spesialisasi lagi di bidang tersebut. Memang perjuangan yang cukup berat, setelah kuliah untuk mendapat gelar drg di depan nama selama minimal 5 tahun kemudian melanjutkan kuliah spesialisasi lagi dengan range kira-kira 3 – 7 tahun ( tergantung bidang spesialisasi yang dipilih). Sebagai contoh dibutuhkan waktu kira-kira 8,5 tahun ( 5 tahun drg + 3,5 tahun Sp.Ort) kuliah untuk menjadikan seseorang berkompeten dan ahli dalam bidang meratakan gigi/memasang behel cekat, atau contoh lain kira-kira 11 tahun ( 5 tahun drg + 6 tahun Sp.Bm) untuk menjadikan seseorang berkompeten dan ahli dalam bidang bedah mulut.

Nah kenapa sih saya memaparkan itu semua?

Di Indonesia, ada berapa banyak dokter gigi umum atau bahkan tukang gigi/ahli gigi yang berani menyediakan jasa memasangkan behel cekat? Sering lihat kan di kanan kiri jalan, atau bahkan di internet diperdagangkan secara bebas layaknya aksesori seperti kalung, gelang, dsb. Ini adalah salah satu contoh pelanggaran, sebab mereka melakukan tindakan tanpa didasari oleh pengetahuan dan kemampuan atas apa yang mereka lakukan terhadap pasien. Mungkin ada beberapa dokter gigi umum yang mengikuti kursus, namun apa iya kursus selama 2 hari memiliki cakupan semua ilmu yang dibutuhkan yang seharusnya dipelajari oleh Sp.Ort selama 3,5 tahun?

Saya teringat perkataan seorang dokter yang juga merupakan dosen saya, ” Kalau memang ga mampu untuk melakukan perawatan seharusnya ada ketukan dari hati nurani yang mengatakan untuk tidak melakukan tindakan tetapi dirujuk kepada spesialis, utamakan kepentingan pasien, bukan kepentingan kantong pribadi”.

Akibatnya ketika tidak memiliki cukup ilmu dan kemampuan yang dibutuhkan dalam melakukan perawatan, seringkali bukannya kondisi mulut pasien menjadi normal malah yang terjadi timbulnya masalah-masalah baru sebagai komplikasi dari perawatan yang salah. Kalau sudah begitu yang menjadi korban kan pasiennya, harus mengeluarkan uang lebih lagi untuk merawat masalah-masalah barunya yang sebenarnya merupakan kesalahan dari dokter gigi umum/tukang gigi/ahli gigi yang tidak berhati nurani ini.

Kasus lain,

Di satu komplek perumahan terdapat 2 klinik dokter gigi. Ketika seorang anak kecil umur 8 tahun dan ibunya datang mengkonsultasikan masalah giginya yang berantakan ke seorang dokter gigi spesialis orthodontik di salah satu klinik tersebut, maka di indikasikan penggunaan removable orthodontic appliances (behel lepasan-tidak menggunakan bracket).

Karena ketidakpuasan dari sang ibu, maka ia membawa anak itu lagi ke klinik dokter gigi yang lain. Di klinik tersebut, dokter giginya merupakan dokter gigi umum. Tahu apa yang terjadi? Dokter gigi itu menjelek-jelekkan dokter gigi sebelumnya, mengatakan bahwa tidak berani melakukan perawatan, tidak ahli, dan juga alat behel lepasan itu hanya mainan yang bisa dibeli dimana saja seharga 50 ribu rupiah saja. Akhirnya dipasangkanlah behel cekat di anak 8 tahun itu oleh dokter gigi ini.

Dalam jangka waktu 2 bulan saja, anak dan ibu itu kembali ke klinik dokter gigi yang pertama. Mengapa? Semua gusi anak itu membengkak hingga menutupi 3/4 dari seluruh bagian giginya!

Dokter gigi di klinik yang kedua tidak memperhitungkan bahwa anak ini memiliki poor oral hygiene (kesadaran untuk menjaga kebersihan mulutnya kurang baik) yang sudah seharusnya kontraindikasi dengan penggunaan behel cekat, selain itu anak dengan umur 8 tahun masih dalam masa perkembangan tulang rahangnya sehingga penggunaan behel lepasan seharusnya merupakan pilihan perawatan yang terbaik.

Pada akhirnya, anak itu menjalani operasi pengangkatan gusi bengkaknya ( gingivitis) dan ibunya melakukan pengaduan atas pelanggaran yang dilakukan dokter gigi umum di klinik yang kedua ini, selain tidak berkompeten, dokter gigi ini tidak ber SIP (Surat Izin Praktek), serta menjelek-jelekkan dokter lain. Ketika datang ke suatu klinik dan bertemu dengan dokter/dokter gigi yang memaparkan segala keberhasilannya merawat kasus-kasus serta menjelek-jelekkan dokter lain, silahkan anda curiga. Sebab dokter/dokter gigi yang berkompeten sudah seharusnya terbiasa berhasil merawat kasus yang memang keahliannya serta menghargai sumpah dokter yang sudah diucapkannya

Demi Allah, saya bersumpah bahwa :

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan ber­moral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;

Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerja­an saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;
Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial;
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan ke­dokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;

Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan memper­taruhkan kehormatan diri saya.

*teman sejawat = sesama dokter

Saya disini bukan ingin mengecilkan kemampuan dari dokter gigi umum, melainkan hanya ingin memberi tekanan bahwa ada batasan yang bisa dikerjakan oleh dokter gigi umum dan yang hanya bisa dikerjakan oleh dokter gigi spesialis. Mungkin banyak dokter gigi atau orang dengan profesi apapun yang ingin mencapai kesuksesan dengan jalan pintas, namun hey! seberapa lamakah kesuksesanmu akan bertahan jika melalui cara-cara yang tidak baik? Kita hidup di dunia ini tidak sendirian, what goes around comes around!

so, see you on top!

Read Full Post »