Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2012

Sweet and tasty

These are photos of red velvet and macaroons created and decorated by my lovely master Nuri Lathifah 🙂

image

image

 

Photograph by me

Read Full Post »

cerita ini saya ambil dari profile fb seorang teman:

-copy-

Kakek Penjual Amplop di ITB

Kisah Kakek Penjual Amplop di ITB. Kisah nyata ini ditulis oleh seorang dosen ITB bernama Rinaldi Munir mengenai seorang kakek yang tidak gentar berjuang untuk hidup dengan mencari nafkah dari hasil berjualan amplop di Masjid Salman ITB. Jaman sekarang amplop bukanlah sesuatu yang sangat dibutuhkan, tidak jarang kakek ini tidak laku jualannya dan pulang dengan tangan hampa. Mari kita simak kisah Kakek Penjual Amplop di ITB.

Kakek Penjual Amplop di ITB
Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun Kakek itu tetap menjual amplop. Mungkin Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran Kakek tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat Kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu Kakek itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi Kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si Kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si Kakek tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si Kakek tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

Mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini. Tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata. Mari kita bersedekah lebih banyak kepada orang-orang yang diberikan kemampuan ekonomi lemah. Allah akan membalas setiap sedekah kita, amiin.

 

Read Full Post »

Setuju ga sih kalau di dunia ini banyak banget permasalahan?

Kayaknya gausah di dunia tapi di hidup masing-masing individu aja juga udah banyak, apalagi di suatu komunitas, apalagi di suatu negara, apalagi di dunia?

Sadari deh sesungguhnya sebagian besar permasalahan itu bisa loh diselesaikan dengan adanya kesadaran. Sayangnya ga cukup sekedar satu atau dua orang yang sadar, tapi butuh sebagian besar bahkan seluruh individu yang ada.

Contohnya dalam kasus banjir di jakarta, sebagian besar orang mengeluhkan pemerintah tidak becus menanggulangi dan bertindak dan bla bla bla. Apa iya yang harus disalahkan pemerintahnya saja? Pernah ga berkaca melihat diri sendiri. Bayangkan jika semua penduduk jakarta dan sekitarnya membuang sampah tidak ke sungai, tidak mendirikan pemukiman di pinggir sungai, pembangunan gedung-gedung sesuai dengan aturan tidak melahap area serapan. Saya rasa banjir di jakarta pasti akan dapat diselesaikan dengan mudah oleh pemerintah, tidak perlu kian melebarkan BKT.

Menjadi seorang manusia di dunia ini adalah sama dengan menjadi pemimpin, terutama memimpin dirinya sendiri. Menyadari apa yang saya lakukan untuk berkontribusi menyelesaikan masalah, bukan hanya menunjuk pihak lain untuk disalahkan. Sekecil apapun tindakanmu, jauh lebih berarti dibanding omongan belaka.

Jangan berpikir kita ga akan bisa bertindak tanpa memiliki kekuasaan, jabatan, kedudukan, dan lainnya. Apapun posisi kita, di atas maupun bawah, tetap semua orang memiliki tanggung jawab oleh karena itu yuk mulai dari sekarang sadari apa yang bisa kita lakukan mengatasi masalah-masalah yang ada 🙂

Read Full Post »

Lirik lagu itu tentang cinta, cinta yang ditinggalkan. Saat saya mendengarnya pertama kali, saya merasa cinta itu masih jauh untuk bisa saya rasakan tapi saya bisa merasakan pedihnya lagu itu. Saya hanya menangis di jok belakang mobil ditemani hujan dan terbawa pemikiran saya sendiri, tidak berani mengungkapkan ataupun bertanya. Ya, saya masih ingat jelas perasaan itu saat saya hanya berusia tidak sampai 6 tahun bahkan saya belum masuk sekolah dasar.
Dan…
Perasaan itu kembali setelah sekian lama tidak mendengar lagu tersebut, bukan tentang saya, masih dengan pedih yg sama.

Read Full Post »

Read Full Post »

#HitsWithoutViolence

Read Full Post »

Takut untuk Gagal?

Setiap orang pasti punya hal yang ditakuti, dan begitu pula dengan saya.

Saya takut untuk gagal,
makanya saya takut berkompetisi.

Sebisa mungkin saya menghindari berkompetisi dengan orang lain, tadinya saya pikir dengan cara seperti ini maka saya bisa menghindari dicap gagal oleh orang.

Bukannya tidak tau, saya tau kok sejak lama pepatah ‘kegagalan adalah untuk dipelajari sehingga bisa mencapai kesuksesan’.

Seringkali juga saya menghibur teman-teman yang disinggahi kegagalan dengan pepatah ini. Namun dibalik itu saya ternyata lebih nyaman untuk stay dengan comfort zone, memilih menghindari kegagalan dibandingkan belajar dari kegagalan.

Dan ketika suatu saat saya melihat seorang teman yang sesungguhnya diremehkan banyak orang, setelah 2-3 tahun berlalu dia mampu menjadi orang yang aktif di berbagai kegiatan serta menjadi pemenang di berbagai kompetisi. Saya sebagai teman yang selingkungan dengan dia merasa tidak banyak yang berubah dari dirinya, lantas apa yang membedakan dia dari saya? Jawabannya adalah keberanian menantang diri berkompetisi.

Saat itu, pikiran saya terbuka dan tidak ingin meneruskan kesalahan saya selama ini. Sudah cukup saya hidup dengan menghindari kegagalan & kompetisi.

Saya tidak pernah tau apa yang mampu saya capai karena saya tidak pernah mencoba mendekati kegagalan, saya tidak pernah tau kemampuan saya dibandingkan orang lain karena saya tidak pernah berkompetisi.

Saya ingin berubah, saya tantang diri saya.

Tidak lama, di fakultas saya dibuka pendaftaran untuk kompetisi mahasiswa berprestasi. Saya tidak akan melewatkan kesempatan ini, saya akan buktikan kalau saya cukup berani membawa diri saya berkompetisi.

Secara tekhnis, cukup berat bagi saya untuk memenuhi persyaratan kompetisi ini karena diwajibkan untuk membuat sebuah karya tulis dan mengumpulkan CV beserta seluruh buktinya disaat materi akademis blok (1/2 semester) ini membutuhkan banyak waktu untuk mempelajarinya.

Hambatan? Jangan ditanya banyaknya.
Mulai dari saya tidak pernah membuat karya tulis sebelumnya sehingga saya mulai dari 0, waktu yang kurang, ujian dan tugas bertumpuk baik akademis dan non akademis, sulitnya mencari bukti-bukti CV yang sudah banyak hilang. Belum lagi ditambah keikhlasan mengorbankan waktu: setelah selesai ujian teman-teman saya yang lain dapat berpergian senang-senang, sedangkan saya terjebak dengan karya tulis yang memusingkan. Saya juga mengorbankan waktu tidur saya, demi mengejar persiapan akademis namun tetap mengerjakan karya tulis dengan maksimal.

Semua saya lakukan, tidak menyerah, dan ikhlas.
Ada beberapa diantara teman-teman saya yang berhenti di tengah jalan karena satu dan lain hal, tapi saya tidak. Kenapa? Bukan karena ingin menyandang titel mahasiswa berprestasi, bukan karena merasa diri saya sangat berprestasi, hanya ingin menyelesaikan apa yang sudah saya mulai dengan sebaik-baiknya dan membuktikan bahwa saya bukan seorang pengecut yang terus menghindari kegagalan.

Sampai saat ini, saya masih berada dalam kompetisi mahasiswa berprestasi FKG UI. Saya berikan yang terbaik yang saya bisa lakukan. Hasil perlombaan hanyalah sebuah tambahan jika memang tercapai gelar juara, jika tidak pun saya sudah menang melawan ketakutan akan kegagalan di dalam diri saya.

image


Bagaimana dengan kamu? Apa ketakutanmu? Beranikah tantang dirimu?

Read Full Post »

Older Posts »