Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2013

Read Full Post »

Soekma Djaja di liputan 6

Read Full Post »

Soekma Djaja

Beberapa waktu lalu saya membuat postingan mengenai makna Soekma Djaja dalam hidup saya sendiri, pada postingan kali ini yang ingin saya sampaikan adalah Soekma Djaja yang dapat dilihat oleh kebanyakan orang yang menyaksikan kami di atas panggung Gedung Kesenian Jakarta dengan sorotan lampu. enjoy!

(gambang rancak):

“kue sumping makanan orang…..”

375587_494614097274105_990534864_n

Opening:

“Pa, Nadine angkat telfon dulu ya”

1001317_494614670607381_1315272544_n

Adegan 1:

“Jakarta kota penuh harapan”

10609_494615100607338_59713569_n 970189_494614917274023_906162073_n

Adegan 2:

“Budaya di tengah masyarakat – Akulturasi dan penetrasi budaya”

295509_494622513939930_661113716_n 936416_494620360606812_1291781478_n

Adegan 3:

“Gimana kalau ondel-ondel tadi kita jadiin bahan makalah kita?”

Adegan 4:

“Langsung aje aye ajuin nama Soekma Djaja, kan aye dulu biasa nandak dimari” -Lisnawati

8571_494628387272676_1728032166_n 580409_494605210608327_29050569_n

Adegan 5:

“Gambang! Wayang! Gambang! Wayang! Pokoknya Gambang!”

995807_494629813939200_1701788373_n

Adegan 6:

“Lo siape?”

Adegan 7:

“Semua impian tinggal kenangan”

421606_494634390605409_30331667_n

Adegan 8:

“Gimana kalau kita terusin impian Yadi? Tampil di GKJ sekalian buat bahan karya akhir semester kita?”

Β 1001853_494636607271854_135462868_n

600401_494637413938440_1254735471_n

Adegan 9:

“Mohon doa restu ya nyak babe” – Jay

Β 993023_494638343938347_1074594262_n7314_494638980604950_1932826031_n

Adegan 10:

“The Show”

Curtain call:

“Siape ga kenal kite abang dan none Jakarte, ilmu agama panduan kite warisan budaye”

5584_494644913937690_959219790_n 7293_494641590604689_828074180_n

foto dan video dari fb abnon barat, beberapa media online, dan milik pribadi

Read Full Post »

….

Untitled-1

Read Full Post »

‘Kemenangan Hati’ atau yang bisa juga disebut Soekma Djaja. Soekma Djaja, yaitu produksi ke-4 yang dilakukan oleh teater abang none Jakarta bekerjasama dengan komunitas peqho teater, di produseri oleh Maudy Koesnaedi dan di promotori oleh Diatone Asia. Dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta tanggal 5 & 6 Juni 2013 dengan harga tiket VIP 250k, kelas 1 200k, dan kelas 2 100k.’


Pementasan teater Soekma Djaja bercerita mengenai keluarga Betawi yang menyambung hidup dengan bermain musik Gambang Kromong disertai Ondel-ondel dan tari cokek. Kepala keluarga ini adalah Babe Maman Djaya dengan dua anak laki-laki, Djaelani dan Djayadi. Djaelani adalah anak yang pintar dan cerdas sehingga mampu meraih beasiswa untuk kuliah di universitas swasta ternama namun ia malu dengan latar belakang keluarganya yang miskin dan tidak berminat meneruskan usaha ayahnya. Sedangkan Djayadi atau Yadi, adalah anak bungsu yang masih duduk di bangku SMA. Yadi sangat cinta dengan Gambang Kromong dan memiliki jiwa kepemimpinan untuk menggantikan ayahnya yang sudah sakit dan tidak mampu menjalankan grup Gambang Kromong Soekma Djaja. Diceriterakan bahwa Jay mendapatkan tugas kuliah untuk membuat karya yang berdasarkan budaya lokal, teman sekelompok Jay ingin mengangkat Gambang Kromong tapi ditolak habis-habisan oleh Jay yang merupakan ketua kelompok. Hingga suatu hari nasib tragis menyambangi Yadi, ketika mengamen terjebak sekelompok pelajar tawuran dan Yadi pun harus tewas di tangan anak-anak berandal itu. Jay merasa bersalah dan dengan bantuan serta dukungan teman-temannya, Jay bertekad melanjutkan Soekma Djaja.

Kurang lebih, jika anda googling tentang Soekma Djaja, itulah hasil yang akan anda dapat ditambah beberapa foto-foto dan video.

Tapi bagi saya Soekma Djaja lebih dari sekedar itu..

Semua berawal di Januari tahun 2013, dibuka audisi untuk pementasan teater dengan judul Soekma Djaja yang akan dilakukan di Bulan Juni. Audisi ini terbuka bagi seluruh abang dan none wilayah mana pun dan angkatan berapapun. Saya yang saat itu aktif di latihan teater abnon rutin setiap hari Rabu tidak ketinggalan mendapatkan informasi tersebut. Setelah mendengar kabar itu, yang saya khawatirkan adalah ‘bagaimana ya nasib kami-kami ini yang latihan rutin tiap hari Rabu jika ada pementasan besar yang menyedot seluruh perhatian para pengurus teaterabnon ini?’ sehingga saya sempat berpikir untuk tidak mengikuti audisi dan mengkontribusikan diri mengurus latihan rutin untuk para abang dan none yang tidak keterima audisi.

Saya awalnya mengurungkan diri untuk mengikuti audisi, mengingat saya di bulan Februari baru akan memasuki dunia klinik untuk pertama kalinya. Dari cerita-cerita senior di kampus, sepertinya masuk klinik itu lelah dan menguras tenaga sekali. Saya memang orangnya tidak betah diam, pasti banyak kegiatan dan saya sudah seperti itu di tingkat pre-klinik dengan berbagai organisasi dan kepanitiaan. Namun setelah sharing dengan senior, saya seakan memantapkan hati untuk menghentikan segala kegiatan saya diluar akademis mendengar ucapan senior saya saat itu “klinik itu ga bisa nyambil ini itu lagi sy, harus fokus kalau mau cepet lulus”.

Di saat yang bersamaan, saya sedang dekat-dekatnya dengan teman-teman dari teaterabnon. Kami banyak menghabiskan waktu bersama dan saya sangat nyaman bersama mereka, rasanya seperti menemukan orang-orang yang sudah lama hilang. Saya sayang dan ingin banyak menghabiskan waktu dengan mereka. Ternyata mereka semua mengikuti audisi untuk pementasan ini, dan saya pun bingung. Saya tidak mau ketinggalan momen namun tidak lupa dengan apa yang sudah saya putuskan.
mtf_SAOiB_2723

Akhirnya saya putuskan untuk mengikuti audisi, sekedar ikut saja toh belum tentu keterima. Audisi tahap I ini dilakukan di plaza festival, Kuningan. Saya melakukan audisi sesuai kapabilitas saya, tidak berusaha menjelek-jelekkan atau melatih secara khusus sebelum audisi. Toh kembali lagi saya teringat akan perkataan teman saya, Nuri Lathifah: “Kalau dikasih kesempatan berarti sama Tuhan juga dikasih jalan untuk ngejalaninnya, kalau ga dapet berarti ga sanggup ngejalaninnya”. I do trust these words!

Hasil audisi tahap I adalah saya lolos, semua teman-teman terdekat saya juga lolos. Saya senang sekaligus mulai gelisah. Kembali saya lupakan kegelisahan dan ikuti saja prosesnya. Saya datang ke audisi tahap 2 selesai dari acara wisuda saya di Balairung UI Depok bersama beberapa teman. Saya ingat, saya datang terlambat, saat itu audisi dilaksanakan di TIM.

Kemudian pengumuman nama-nama abang dan none yang lolos pun di publikasikan, ada nama saya di dalam daftar tersebut. SAYA PANIK! bagaimana tidak? saya tidak tahu harus meminta izin bagaimana ke mama saya yang menomor satukan akademis, apalagi mama saya dosen di FKG UI, beliau tau betul tingkat stres yang dialami mahasiswa klinik dengan tekanan beban requirement beberapa departemen. Ditambah perasaan sedih berasal dari tidak lolosnya beberapa teman terdekat kami, seakan ada perasaan bingung dan bertanya-tanya “kok dia bisa ga lolos sih?”.

Saya akhirnya memberanikan diri berbicara dengan Mpok Mod (Maudy Koesnaedi) mengenai masalah izin dengan orang tua saya, dan Mpok Mod mau membantu saya meminta izin dengan datang ke kampus menghampiri dan menceritakan mengenai teater abang none kepada mama saya. Saya sempat tidak menyangka sewaktu mama saya memberikan izin, tentunya dengan persyaratan akademis tidak terganggu. Saya pun menyanggupi dan bertekad akan berusaha berkali lipat di klinik dibanding orang-orang lain untuk mengimbangi waktu yang tersita berlatih teater.

Latihan pun mulai saya jalani, setiap senin malam dan selasa malam hingga tibalah pada saat pembagian peran. Tidak semua orang yang lolos audisi akan mendapatkan peran yang tercantum dalam naskah karakternya, saya pun tidak mengharapkan. Seringkali saat latihan rutin saya bercanda “Gue mau ikut teater ya, tapi maunya nari doang hehe, kalau udah akting angkat tangan deh”. Saya mengatakan ini bukan tanpa dasar tapi karena saya memang percaya diri dengan kemampuan menari saya tapi untuk akting saya nol besar, saya tidak punya pengalaman apapun. Saya berandai-andai akan menjadi penari saja dalam pertunjukkan teater ini atau paling maksimal bisa jadi karakter Lia yang di gambarkan jago menari (karakter ini yang saya perankan saat audisi). Ketika mulai dibacakan satu persatu nama karakter dengan pemainnya siapa, sudah hampir semua karakter dibacakan dan nama saya masih juga belum dipanggil, bahkan karakter Lia pun sudah diambil orang. Hingga tinggal 2 karakter lagi yang belum diumumkan, yaitu Nadine dan Jay, pemeran utama perempuan dan pemeran utama laki-laki. “Ah, mana mungkin lah!” pikir saya. Namun saya salah. Ya! saya dipercaya untuk menjadi Nadine! Nadine Nataprawira.

uf0glfet copy

Saya sempat mempertanyakan mengapa saya terpilih menjadi Nadine? dengan kemampuan akting NOL. Saya pun seakan ditampar, ketika seorang teman berkata “ya lo harusnya gaboleh mempertanyakan itu, kalau udah dikasih, syukuri, jalani aja sebaik-baiknya”. Saya diberi kepercayaan oleh Mpok Mod, oleh tim audisi untuk menjadi Nadine. Mereka percaya kepada saya, kenapa saya meragukan diri saya sendiri? Saya pantas menjadi Nadine, saya layak menjadi Nadine!

Saya mengikuti latihan sebaik yang saya bisa, banyak meraba-raba dunia baru yaitu dunia akting sehingga terkadang jika sudah tidak tau harus memberi progress apa saya menghafalkan sebaik-baiknya dialog saya (saat itu banyak casts yang masih belum hafal dialog). Saya yang sangat baru banyak sekali melakukan kesalahan dan sulit mengeluarkan rasa. Saya sebagai orang awam berpikir bahwa akting itu adalah memainkan muka, intonasi suara, dan gerak tubuh sehingga yang terlihat lah yang penting. Perlahan dengan arahan sutradara, Bang Adjie N.A, saya menyadari bahwa yang tidak terlihat adalah yang terpenting, Rasa. Beberapa kali saya ketemuan dengan Bang Adjie berbicara tentang diri saya sebagai Sissy dan sebagai Nadine, menanamkan karakter Nadine dan bagaimana cara me-rasa.

mtf_Qnkca_112di IKJ diskusi santai sore dengan Bang Adjie dan Lutfi

Di sisi akademis, saya banyak mendapatkan pasien dari teman-teman di teater Soekma Djaja ini bahkan sampai sang sutradara pun menjadi pasien saya. Saya bersyukur walaupun dengan kegiatan saya yang cukup padat dan menyita waktu, kegiatan akademis saya di klinik tidak terganggu bahkan beberapa teman mengakui saya memiliki progress di atas rata-rata untuk penyelesaian requirement. Saya mampu membuktikan bahwa kegiatan teater tidak membuat saya lantas mengesampingkan akademis. Mungkin ini dikarenakan saya menganggap latihan yang saya jalani merupakan hiburan/refreshing, jika teman-teman saya refreshing dengan tidur atau menonton tv atau bermain internet maka saya punya cara saya sendiri untuk menghibur diri, dengan berlatih teater.

mtf_SAOiB_1748Dana yang jadi pasien ortho saya

mtf_SAOiB_1750Cakra yang jadi pasien OM saya

5 bulan persiapan kami jalani, banyak perubahan-perubahan yang terjadi. Baik di dalam adegan, maupun secara realita. Beberapa adegan untuk menjadi gimik-gimik pertunjukkan pun ditambahkan, salah satunya ketika Jay tidak sengaja mencium pipi Nadine saat berantem dan ditoyor oleh Alex. Kaget ketika diberitahu untuk melakukan itu, dan ketika sudah seharusnya seperti itu mau bagaimana lagi tinggal dijalani saja. Toh ini semua hanya akting, dan sudah sepantasnya bersikap profesional (walaupun masih amatir). Selain itu secara realita, saya seperti mendapatkan teman-teman baik baru bahkan keluarga baru. Saya memiliki teman untuk berkeluh kesah masalah kehidupan saya, masalah akademis, masalah teater, dan segalanya walaupun awalnya sebelum di Soekma Djaja saya tidak mengenal mereka. Saya juga mendapatkan beberapa pengalaman yang mendewasakan diri saya, tidak semuanya langsung saya alami ada juga yang saya lihat dari kehidupan orang lain selama berada di keluarga Soekma Djaja ini. Proses latihan baik yang terjadwal maupun tambahan, photoshoot, showcase, dan pressconf semuanya menjadi rangkaian pembelajaran bagi saya.

IMG_20130509_232952saat latihan koreografi

mtf_SAOiB_2239suasana latihan

mtf_SAOiB_2247saya dan teman-teman Soekma Djaja

showcase Soekma Djaja di Senayan City

Ada beberapa orang yang mempertanyakan masalah casts Soekma Djaja dibayar atau tidak, saya tidak peduli. Saya belajar sangat banyak sekali dari produksi ini, orang lain diluar sana ingin belajar akting harus bayar les, sedangkan disini saya tinggal datang latihan dan sangat dimanja (makanan minum disiapin, tempat udah disiapin, obat-obat terjamin, jadwal diaturin, produksi ada yang urusin – kurang enak apa coba haha mungkin karena saya tau sulitnya mengurusi suatu pertunjukkan berdasarkan pengalaman bersama TRISTIQUE). Dan saya merasa sangat beruntung diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri seperti ini dari ratusan orang yang mengikuti audisi. Saya belajar akting, menyanyi, menari, mendewasakan diri, mendapat keluarga baru dengan berbagai latar belakang disiplin ilmu lantas masih nanya minta dibayar atau ngga? Gatau diri kali namanya.

 

mtf_SAOiB_2915

Setelah berpindah-pindah tempat latihan : Studio K2 di Kramat, Gedung Nyi Ageng Serang di Kuningan, Gedung Pacuan Kuda di Pulo Mas, Teater Luwes di IKJ, sampailah waktunya memasuki Gedung Kesenian Jakarta. Dari latihan 2x seminggu, 3x seminggu, menjadi setiap hari. Saat seminggu berlatih di IKJ, saya setiap hari nongkrong dari sore sebelum latihan di selasar teater Luwes hingga beberapa orang disana mengenal saya. Ketika saya datang pas-pas an sudah dengan kostum latihan, satpam disana menyapa saya ” wah mau latihan ya? mau ujian ya? jurusan apa mba? “. Saya cuma bisa tertawa dan menjawab, saya latihan di teater Luwes untuk pertunjukkan bukan untuk ujian. Sesaat terbersit pikiran apa setelah mendapatkan gelar drg saya melanjutkan pendidikan di Fakultas Seni Pertunjukkan saja ya mengambil jurusan Seni Tari, yah kita lihat saja nanti masalah ini.

Mendekati hari pertunjukkan, hati saya tidak tenang, selalu gelisah setiap teringat waktu yang tersisa hingga hari H. Saya takut, hari yang dahulu rasanya masih lama kenapa sekarang di depan mata? Saya juga sedih, sedikit lagi waktu kebersamaan kami. Saya excited pertama kalinya bermain teater. Semua perasaan campur aduk! Saya bahkan sempat mem-post di salah satu social media saya: “H-2 Soekma Djaja… Rasanya mau loncat dari monas”. Saya sadar betul yang saya hadapi, saya mendekati puncak dan juga akhir dari setengah tujuan hidup saya saat itu. Soekma Djaja adalah sebagian dari tujuan hidup saya, hati saya sudah saya berikan di Soekma Djaja.

Hari pertama pertunjukkan di depan undangan, hari kedua dan ketiga di depan khalayak umum. Senang, puas, bahagia..

BERAKHIR?

Tidak untuk saya, sehari setelah pementasan saya seperti orang linglung kehilangan arah dan tujuan hidup. Saya kehilangan hati saya. Mata saya bengkak, terdiam sedikit menangis, ngelamun dikit nangis. Rasanya sesak tiap teringat bahwa SoekmaDjaja sudah selesai. Terlalu banyak perasaan yang tercipta selama proses ini. Mulai dari perasaan bahagia mendapat peran, pertemanan yang ga tahan kalau sehari ga ketemu, merasa sedih down sampai menangis di bahu teman saat pulang karena dianggap tidak ada progress, dimarahi disindir tapi setelah itu di ’emong’ sama produser, dicuekin sutradara dianggap tidak setia dengan pernyataan yang ujung-ujungnya malah curhat, perasaan tidak enak kepada orang secara sadar atau tidak sadar, terharu didatangi ke kampus untuk berlatih akting oleh rekan senior, dan semua drama yang terjadi. Apa iya semua itu tinggal kenangan?

Saatnya move on, dan buat kenangan baru. Jalankan teaterabnon dan beri kesempatan untuk mereka yang lain merasakan apa yang saya rasakan. Satu yang saya tau pasti, saya sangat cinta dengan panggung dan seni πŸ™‚

Love,

Nadine Nataprawira/

Nissia Ananda

Read Full Post »