Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘corat coret’ Category

Berkuliah di FKG UI sebelum memasuki masa klinik (atau program profesi) cenderung santai, sehingga saya sendiri banyak mengikuti organisasi dan kepanitiaan di dalam dan luar kampus. Bisa dikatakan saya pada waktu itu adalah gambaran dari workaholic, pernah dalam sekali waktu saya berada dalam enam organisasi dan sepuluh kepanitiaan bersamaan sekaligus. Hasilnya? typus. Tapi tidak ada yang saya sesali dengan semua kegiatan yang pernah saya ikuti, saya sekarang ini ya dibentuk dengan bekal apa yang saya lakukan sebelumnya. Saya belajar banyak tantang organisasi dan kepemimpinan di BEM FKG UI, sedangkan di Young On Top saya belajar mengenai self development (yang mengubah hidup saya setelah itu), lain lagi di Leo Young Club Jakarta Kota saya belajar untuk bersyukur atas hidup saya dan berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan, dan organisasi serta kepanitiaan lainnya yang tentu saja tidak bisa saya sebutkan satu persatu value nya.

Seiring dengan berjalannya waktu, tibalah saya memasuki program profesi (klinik -atau biasa disebut koas-) dan saya memiliki kegalauan untuk menjalani klinik dibarengi dengan kegiatan lain. Pada saat itu, saya baru saja dipilih menjadi pemeran utama pementasan teater Soekma Djaja oleh Teater Abang None Jakarta. Saya sempat memposting pada blog ini juga mengenai pementasan Soekma Djaja yang menceritakan konflik yang saya alami (pada diri sendiri) sebelum memutuskan untuk tetap mengikuti pementasan, bisa dilihat di sini. Poin yang mau saya angkat adalah sampai Mpok Maudy Koesnaedi sendiri yang turun tangan untuk meminta izin kepada orang tua saya agar di izinkan untuk terlibat dalam produksi teater ini, orang tua saya menyetujui dengan syarat akademis saya tetap baik. Saya pun menyanggupi.

Menjalankan program profesi itu tidak mudah, banyak sekali rintangan dan hambatan serta butuh keberuntungan setiap harinya untuk mengejar requirement demi requirement. Manusia bisa berencana, tapi Tuhan yang menentukan adalah kata-kata yang sangat sesuai untuk kegiatan klinik mahasiswa profesi kedokteran gigi. Kami harus menyesuaikan keinginan kami, keinginan pasien, dan keinginan dosen supervisor. Keinginan tersebut mencakup jadwal, waktu pengerjaan, hasil yang di inginkan, dan sebagainya. Satu saja tidak sesuai, maka pekerjaan bisa jadi terhambat. Contohnya ketika kita sudah menyiapkan diri untuk bekerja, dosen supervisor pun sudah dijanjikan untuk mengawasi, namun pasien mendadak tidak bisa datang karena satu dan lain hal jadi ya kita sehari itu akan kehilangan kesempatan untuk bekerja. Oleh karena itu saya selalu menyiapkan rencana cadangan, karena percaya atau tidak misalnya saya membuat tujuh hingga sembilan rencana bisa jadi yang terlaksana hanya dua.

Saya percaya dengan bekerja keras tidak ada hal yang tidak mungkin. Saya tidak pernah menargetkan untuk lulus tepat lima tahun, karena dari pengamatan akan senior-senior saya terdahulu hanya satu atau dua orang yang mampu lulus tepat lima tahun. Sedari awal saya sudah mengatakan pada ibu saya, saya akan berusaha sebisa saya semaksimal saya dengan target untuk lulus paling tidak sebelum angkatan kami yaitu 2009 digeser oleh angkatan 2011 (klinik tempat mahasiswa bekerja ada tiga, yaitu integ 1 untuk angkatan ganjil, integ 2 untuk angkatan genap, dan integ 3 untuk mahasiswa tidak tepat waktu). Menjelang akhir pengumpulan berkas, saya ternyata menghitung dengan seksama saya bisa lulus 5 tahun asalkan rencana dapat terlaksana dengan baik (satu sampai tiga kali gagal kerja, tidak lebih). Setelah pekerjaan klinik selesai saatnya melalui ujian demi ujian departemen, ujian komprehensif, dan ditutup uji kompetensi nasional. Dua minggu terakhir di klinik bagi saya penuh dengan keringat, air mata, serta konflik batin antara keputusasaan dan harapan. Saya sempat gagal di salah satu ujian yang membuat saya down, perjalanan tidak semulus di rencana yang saya buat. Tapi saya mampu bangkit dan kembali mengusahakan untuk mengejar kelulusan.

10822717_10152856183662488_957759227_nHasil akhirnya? Saya mampu lulus tepat waktu lima tahun dengan predikat cum laude (hanya saya dan satu orang lagi yang mampu lulus lima tahun). Sampai disitu? Tidak! Saya berhasil menjadi lulusan terbaik. Saya menjadi bukti untuk mematahkan pendapat bahwa menjalani klinik tidak bisa sambil melakukan hal lain di luar. Selama menjalani klinik setelah selesai pementasan Soekma Djaja, saya tetap aktif di teater abang none dan menjadi art performer. Selain itu, saya juga aktif di komunitas Peqho Teater. Pementasan demi pementasan saya lakukan dengan tetap berintegritas menjaga janji yang sudah saya ucapkan ke orang tua saya. dan sekarang lah dunia nyata mempersilahkan saya memasuki nya sebagai manusia yang memiliki bekal cukup sebagai dokter gigi untuk berkontribusi kepada masyarakat, terntunya tanpa melupakan passion saya lainnya sebagai art performer πŸ™‚

10863516_10152856051112488_439279016_n

Read Full Post »

JALANAN the movie

e2a00a0c8186484d9c5a75e23e28e244

 

JALANAN is a documentary movie about three ‘buskers’ or street musicians.

They are BONI, HO, and TITI.

Each of them has their unique story, and also inspiring in my opinion. This documentary movie created by following their life for 6 years.

BONI inspired me through his kindness and sincere, HO inspired me with his love for Indonesia and be brave living his life, TITI inspired me with her spirit and patience.

“Di Jakarta masih ada harapan”

The tagline of this movie and I couldn’t agree more, yes! There’s still hope in Jakarta.

Read Full Post »

Gue adalah salah satu orang yang anti dengan golput saat pemilu. Di luar sana, banyak anak muda yang merasa apatis sama politik, terlalu muak dengan ‘kebusukan’ politik kata mereka sehinga untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi pun enggan. Gue pun tidak memungkiri kalau politik saat ini masih sangat erat berhubungan dengan kepentingan, baik individu maupun sekelompok orang. Tapi bukan berarti gue tidak percaya bahwa dari sekian banyak politisi masih ada yang punya hati nurani dan niat tulus untuk menjalankan amanah yang diberikan kepada mereka. Sebagai warga negara, jika kita menjalankan kewajiban kita dan juga memenuhi hak kita untuk ikut serta dalam pesta demokrasi maka kita akan dengan nyata mengkontribusikan sesuatu untuk situasi politik negara ini. Mengenal dan mengetahui calon yang akan kita pilih sama dengan memberikan diri kita untuk menjalankan fungsi kontrol masyarakat kepada pemerintah melalui penyeleksian orang yang akan mewakili suara kita, paling tidak dengan screening awal dari masyarakat akan meminimalisir oknum-oknum yang sudah jelas tidak berintegritas saat berkampanye untuk menduduki kursi wakil rakyat. Selain itu dengan menghindari golput, berarti kita mengurangi kemungkinan adanya jual beli suara yang tentunya akan tidak dipergunakan secara baik. Tidak mau kan hak pilih kita malah disalahgunakan?

 

10178998_10152296720357488_1533388765_o

Read Full Post »

Soekarno

Film satu ini cukup menuai kontroversi setelah pemutarannya. Beberapa teman yang sudah nonton duluan bahkan ada yang menganggap film ini tidak jelas, hanya fokus pada sisi ‘genit’ seorang Soekarno. Teman yang lain mengomentari mengenai ketidakfokusan isi film. Saya lalu menonton sendiri film ini dan …. menurut saya film ini bagus. Makna yang ingin disampaikan bisa diterima. Saya menjadi semakin sadar dan tertampar saat menonton film ini bahwa kebebasan dan kemerdekaan yang generasi bangsa Indonesia zaman ini nikmati dibayar dengan harga yang sangat mahal oleh para pahlawan kita. Mendengar rekaman suara asli Bung Karno sebagai penutup dari film ini membuat saya tergetar. Mengenai kisah percintaan Soekarno, yang dipaparkan dalam film ini adalah fakta, lantas mengapa dipergunjingkan? Penyajian kisah cinta Soekarno di film ini pun tidak berlebihan. Yang pasti perjuangan memperebutkan kemerdekaan dan kisah percintaan Inggit serta Fatmawati tidak bisa dipisahkan dari kehidupan seorang Soekarno bukan?

Read Full Post »

Titik Terang

Sebuah pertunjukkan teater karya Ratna Sarumpaet, seorang aktivis wanita Indonesia yang nama nya sudah cukup dikenal masyarakat. Tema yang diangkat adalah politik, sebuah bentuk ekspresi rasa tidak puas disertai emosi kepada pemerintah negara Indonesia. 2,5 jam pertunjukkan ini saya seakan diajak membuka mata melihat lebih jelas tentang sedikit dari banyak persoalan-persoalan di negara kita tercinta. Testimoni dari seorang jaksa bohongan yang depresi anaknya meninggal akibat narkoba, dikaitkan dengan grasi presiden terhadap mafia narkoba besar serta testimoni dari seorang (mantan) pelacur yang sering melayani para pejabat, dikaitkan dengan masalah perpelacuran baik di negeri ini maupun para tkw yang dijadikan pelacur di luar negeri. Perjalanan menuju sebuah sidang rakyat, dimana rakyat yang mengadili. Kasus bank abad pun menjadi topik yang panas di sidang rakyat. two thumbs up buat karya anak bangsa yang satu ini, sarat makna menghibur sekaligus menampar para penonton.

Β 

Read Full Post »

Read Full Post »

Soekma Djaja

Beberapa waktu lalu saya membuat postingan mengenai makna Soekma Djaja dalam hidup saya sendiri, pada postingan kali ini yang ingin saya sampaikan adalah Soekma Djaja yang dapat dilihat oleh kebanyakan orang yang menyaksikan kami di atas panggung Gedung Kesenian Jakarta dengan sorotan lampu. enjoy!

(gambang rancak):

“kue sumping makanan orang…..”

375587_494614097274105_990534864_n

Opening:

“Pa, Nadine angkat telfon dulu ya”

1001317_494614670607381_1315272544_n

Adegan 1:

“Jakarta kota penuh harapan”

10609_494615100607338_59713569_n 970189_494614917274023_906162073_n

Adegan 2:

“Budaya di tengah masyarakat – Akulturasi dan penetrasi budaya”

295509_494622513939930_661113716_n 936416_494620360606812_1291781478_n

Adegan 3:

“Gimana kalau ondel-ondel tadi kita jadiin bahan makalah kita?”

Adegan 4:

“Langsung aje aye ajuin nama Soekma Djaja, kan aye dulu biasa nandak dimari” -Lisnawati

8571_494628387272676_1728032166_n 580409_494605210608327_29050569_n

Adegan 5:

“Gambang! Wayang! Gambang! Wayang! Pokoknya Gambang!”

995807_494629813939200_1701788373_n

Adegan 6:

“Lo siape?”

Adegan 7:

“Semua impian tinggal kenangan”

421606_494634390605409_30331667_n

Adegan 8:

“Gimana kalau kita terusin impian Yadi? Tampil di GKJ sekalian buat bahan karya akhir semester kita?”

Β 1001853_494636607271854_135462868_n

600401_494637413938440_1254735471_n

Adegan 9:

“Mohon doa restu ya nyak babe” – Jay

Β 993023_494638343938347_1074594262_n7314_494638980604950_1932826031_n

Adegan 10:

“The Show”

Curtain call:

“Siape ga kenal kite abang dan none Jakarte, ilmu agama panduan kite warisan budaye”

5584_494644913937690_959219790_n 7293_494641590604689_828074180_n

foto dan video dari fb abnon barat, beberapa media online, dan milik pribadi

Read Full Post »

Older Posts »