Feeds:
Posts
Comments

Rumah Harapan

Malam mingguan kemarin beda dari biasanya, bukan mal bukan cafe bukan bioskop tapi rumah harapan.

Apa itu rumah harapan?

Rumah harapan adalah rumah singgah untuk anak-anak yang sakit dan membutuhkan tempat berlindung yang aman juga mendukung perawatan pengobatan yang mereka jalani.

ย 10933174_10152963227652488_2046474291_n

Salah satu yang bermain dengan kami kemarin namanya Tyas dengan kanker tulang stadium 4 sehingga sudah lumpuh tidak bisa berdiri dan berjalan lagi, Tyas harus mengesot atau dengan kursi roda buat berpindah. Di kaki Tyas banyak luka karena digigitin tikus saat tidur di tempat tinggalnya dulu yang memang tidak layak. Saat ini luka luka tersebut sudah menyembuh walaupun terapi kankernya sudah tinggal paliatif saja (menghilangkan gejala tidak nyaman yang dialami *rasa sakit* tapi tidak menghentikan penyebaran penyakitnya)

10921814_10152963264572488_1459596703_n

Anak cerdas bernama Ucu sibuk me wawancarai teman saya apakah memiliki pasangan hidup atau tidak, dibalik kelucuannya itu siapa sangka ternyata Ucu menderita gagal ginjal yang membuatnya harus melakukan cuci darah secara rutin.

10928699_10152963355657488_1724953959_n

Selain mereka juga ada Fadhli, Nisa, Desi, Indah yang bermain bersama kami. Menghabiskan waktu bersama mereka membuat kami lebih mensyukuri hidup dan terus ingin berbagi sebisa mungkin, sekecil apapun besarnya.

10888231_10152963266062488_137316326_n10927882_10152963246102488_304126263_n

Teman-teman yang penasaran tentang rumah harapan bisa visit:
Rumah-harapan.com dan 3littleangels.com buat info lebih lanjut

10937735_10152963319882488_647483968_nYang mau donasi, bisa langsung ke mba silly, bisa ke cp di web, bisa juga via saya.

Jangan tunggu kaya untuk berbagi, sekarang pun saatnya ๐Ÿ™‚

glade

10884673_10152892517152488_2132352861_njamban

10877761_10152892281432488_1284516170_n

10899584_10152892254622488_1117031324_n

โ€œLife is an awful, ugly place to not have a best friend.โ€
โ€• Sarah Dessen, Someone Like You

Berkuliah di FKG UI sebelum memasuki masa klinik (atau program profesi) cenderung santai, sehingga saya sendiri banyak mengikuti organisasi dan kepanitiaan di dalam dan luar kampus. Bisa dikatakan saya pada waktu itu adalah gambaran dari workaholic, pernah dalam sekali waktu saya berada dalam enam organisasi dan sepuluh kepanitiaan bersamaan sekaligus. Hasilnya? typus. Tapi tidak ada yang saya sesali dengan semua kegiatan yang pernah saya ikuti, saya sekarang ini ya dibentuk dengan bekal apa yang saya lakukan sebelumnya. Saya belajar banyak tantang organisasi dan kepemimpinan di BEM FKG UI, sedangkan di Young On Top saya belajar mengenai self development (yang mengubah hidup saya setelah itu), lain lagi di Leo Young Club Jakarta Kota saya belajar untuk bersyukur atas hidup saya dan berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan, dan organisasi serta kepanitiaan lainnya yang tentu saja tidak bisa saya sebutkan satu persatu value nya.

Seiring dengan berjalannya waktu, tibalah saya memasuki program profesi (klinik -atau biasa disebut koas-) dan saya memiliki kegalauan untuk menjalani klinik dibarengi dengan kegiatan lain. Pada saat itu, saya baru saja dipilih menjadi pemeran utama pementasan teater Soekma Djaja oleh Teater Abang None Jakarta. Saya sempat memposting pada blog ini juga mengenai pementasan Soekma Djaja yang menceritakan konflik yang saya alami (pada diri sendiri) sebelum memutuskan untuk tetap mengikuti pementasan, bisa dilihat di sini. Poin yang mau saya angkat adalah sampai Mpok Maudy Koesnaedi sendiri yang turun tangan untuk meminta izin kepada orang tua saya agar di izinkan untuk terlibat dalam produksi teater ini, orang tua saya menyetujui dengan syarat akademis saya tetap baik. Saya pun menyanggupi.

Menjalankan program profesi itu tidak mudah, banyak sekali rintangan dan hambatan serta butuh keberuntungan setiap harinya untuk mengejar requirement demi requirement. Manusia bisa berencana, tapi Tuhan yang menentukan adalah kata-kata yang sangat sesuai untuk kegiatan klinik mahasiswa profesi kedokteran gigi. Kami harus menyesuaikan keinginan kami, keinginan pasien, dan keinginan dosen supervisor. Keinginan tersebut mencakup jadwal, waktu pengerjaan, hasil yang di inginkan, dan sebagainya. Satu saja tidak sesuai, maka pekerjaan bisa jadi terhambat. Contohnya ketika kita sudah menyiapkan diri untuk bekerja, dosen supervisor pun sudah dijanjikan untuk mengawasi, namun pasien mendadak tidak bisa datang karena satu dan lain hal jadi ya kita sehari itu akan kehilangan kesempatan untuk bekerja. Oleh karena itu saya selalu menyiapkan rencana cadangan, karena percaya atau tidak misalnya saya membuat tujuh hingga sembilan rencana bisa jadi yang terlaksana hanya dua.

Saya percaya dengan bekerja keras tidak ada hal yang tidak mungkin. Saya tidak pernah menargetkan untuk lulus tepat lima tahun, karena dari pengamatan akan senior-senior saya terdahulu hanya satu atau dua orang yang mampu lulus tepat lima tahun. Sedari awal saya sudah mengatakan pada ibu saya, saya akan berusaha sebisa saya semaksimal saya dengan target untuk lulus paling tidak sebelum angkatan kami yaitu 2009 digeser oleh angkatan 2011 (klinik tempat mahasiswa bekerja ada tiga, yaitu integ 1 untuk angkatan ganjil, integ 2 untuk angkatan genap, dan integ 3 untuk mahasiswa tidak tepat waktu). Menjelang akhir pengumpulan berkas, saya ternyata menghitung dengan seksama saya bisa lulus 5 tahun asalkan rencana dapat terlaksana dengan baik (satu sampai tiga kali gagal kerja, tidak lebih). Setelah pekerjaan klinik selesai saatnya melalui ujian demi ujian departemen, ujian komprehensif, dan ditutup uji kompetensi nasional. Dua minggu terakhir di klinik bagi saya penuh dengan keringat, air mata, serta konflik batin antara keputusasaan dan harapan. Saya sempat gagal di salah satu ujian yang membuat saya down, perjalanan tidak semulus di rencana yang saya buat. Tapi saya mampu bangkit dan kembali mengusahakan untuk mengejar kelulusan.

10822717_10152856183662488_957759227_nHasil akhirnya? Saya mampu lulus tepat waktu lima tahun dengan predikat cum laude (hanya saya dan satu orang lagi yang mampu lulus lima tahun). Sampai disitu? Tidak! Saya berhasil menjadi lulusan terbaik. Saya menjadi bukti untuk mematahkan pendapat bahwa menjalani klinik tidak bisa sambil melakukan hal lain di luar. Selama menjalani klinik setelah selesai pementasan Soekma Djaja, saya tetap aktif di teater abang none dan menjadi art performer. Selain itu, saya juga aktif di komunitas Peqho Teater. Pementasan demi pementasan saya lakukan dengan tetap berintegritas menjaga janji yang sudah saya ucapkan ke orang tua saya. dan sekarang lah dunia nyata mempersilahkan saya memasuki nya sebagai manusia yang memiliki bekal cukup sebagai dokter gigi untuk berkontribusi kepada masyarakat, terntunya tanpa melupakan passion saya lainnya sebagai art performer ๐Ÿ™‚

10863516_10152856051112488_439279016_n

Setelah di tahun 2013 berhasil mendapatkan lisensi untuk menyelam bersama 3 teman saya, salah satu cita-cita saya setelah lulus kuliah adalah untuk menjelajahi kekayaan alam Indonesia (khususnya dunia bawah lautnya). Di akhir tahun 2014,ย saya berhasil menjadi dokter gigi seutuhnya menyelesaikan studi yang sudah lima tahun saya jalani di FKG UI. Dan dimulai lah realisasi cita-cita saya tersebut, dalam rentang waktu tiga bulan saya mengunjungi Bali, Makassar, danย Lampung. Kesemuanya itu memang saya khususkan perjalanan saya untuk melakukan penyelaman.

Perjalanan saya ke Bali sebenarnya berbarengan dengan adanya kegiatan seminar yang salah satu panitianya adalah ibu saya, sehingga tentu saja ini menghemat pengeluaran saya di akomodasi serta transportasi (oke, di segala hal tepatnya). Beberapa senior saya di kampus pun terlibat dalam acara ini, baik sebagai peserta maupun panitia. Saya beruntung dapat mengikuti acara seminar yang sangat bermanfaat dengan speaker dari dalam dan luar negri (secara cuma-cuma walaupun tidak mendapatkan sertifikat). Jadi tidak hanya liburan tapi juga menambah ilmu.

10751916_10152767619197488_747396362_n

Di Bali ini, saya mengunjungi 2 dive site yang cukup terkenal, yaitu Nusa Penida dan Tulamben. Saya sendiri menginap di Hotel Nikko Nusa Dua sehingga membutuhkan beberapa jam untuk mencapai dive site tersebut baik saat melalui transportasi darat maupun laut. Tapi perjalanan panjang tersebut tidak mengecewakan, saya puas sekali dengan pengalaman yang saya dapat di bawah sana terutama saat di Tulamben. Saya seperti mengalami magical moment dengan kapal tenggelam yang ada disana.

Makassar adalah tujuan saya berikutnya, lagi-lagi saya pergi bersama ibu saya karena beliau ada kepentingan untuk menjadi penguji di Unhas (tentunya menghemat pengeluaran saya -lagi-). Saya pergi ke kota ini tidak hanya bersama ibu saya tapi juga dosen-dosen saya di FKG UI, lucu rasanya kalau membayangkan saat masih bekerja sama dengan mereka di kampus. Perjalanan ini hanya tiga hari, dipenuhi dengan wisata kuliner dan menyelam tentunya.

Pada saat saya menyelam di Pulau Samalona, ternyata ada acara yang di adakan oleh dinas pariwisata pemerintah setempat. Saya pun menyelam dengan beberapa teman baru yang merupakan peserta dari acara tersebut. Lautnya tidak terlalu dalam namun cukup menarik untuk di jelajahi. Sayang karena waktu yang singkat, saya hanya bisa menyelam di sekitar Pulau Samalona dan tidak sempat mengunjungi Selayar, atau Tanjung Bira.

Saat beristirahat setelah menyelam, kami menyempatkan diri naik ke Pulau dan ikut menikmati acara yang ada. Saya berkenalan dengan beberapa orang dari dinas pariwisata Makassar dan juga EO acara ini, yang ternyata keesokan harinya saya diajak jalan-jalan oleh salah satu teman baru saya ini. Keramaian di pulau ini dimeriahkan oleh tarian tradisional, pesta BBQ, hingga live music reggae dan kombinasi dari kesemuanya itu dengan pantai adalah ‘having a very good time’ !

Kota terakhir yang saya kunjungi (sebelum membuat postingan ini tentunya) adalah Lampung. Saya merencanakan untuk merayakan tahun baru dengan perjalanan menyelam, karena sudah cukup dua tahun sebelumnya setiap tahun baru saya bertugas (2013: tugas none di pasar baru ; 2014: tugas sebagai koas jaga IGD RSUD Tangerang). Saya mengajak 3 teman saya, yaitu Yoshua/Chua, Luthfi/Upi, dan Clarissa/Ica.. Saya sendiri Sissy seringkali dipanggil Cici, memang lucu nama kami semua memiliki versi imutnya :p Kami berangkat dari Jakarta tanggal 31 Desember 2014 jam 7 malam menggunakan bus, sehingga tentu saja kami merayakan pergantian tahun di atas kapal ferry.

10904328_10152903793522488_1980167629_nBanyak pengalaman seru yang saya dapatkan di Lampung, seperti ketika kami tiba di kota Lampung pukul 2 dini hari kemudian ditawari menginap di ruang sekre klub diving mahasiswa Universitas Lampung (saya bahkan belum pernah menginap melewati satu malam di ruang bem kampus sendiri walaupun sering tidur disitu di pagi/siang hari). Kami melakukan penyelaman di dua spot, yaitu Pulau Susutan dan Pulau Kelagian. Saya pribadi lebih menyukai dunia bawah laut Pulau Kelagian, tidak dalam namun berwarna dan kami sempat melihat sotong. Harus diakui visibility nya tidak dalam kondisi yang prima untuk dikunjungi.

Selain menyelam, saya dan teman-teman juga menyempatkan menginap di Kiluan. Di pagi hari, kami menaiki kapal melihat lumba-lumba keluar dari Teluk Kiluan menuju lautan lepas. Setelah puas melihat lumba-lumba, kami berjalan selama 30 menit untuk mencapai Pantai Laguna. Perjalanan yang dilakukan cukup melelahkan, melintasi hutan dengan jalan setapak menanjak kemudian tangga batu yang dilanjutkan dengan melewati batuan batuan karang. Begitu sampai, wah puas sekali rasanya! nyebur adalah keharusan.

10899783_10152920896097488_862351260_nWell, sekian dulu cerita tentang perjalanan-perjalanan yang sudah saya realisasikan. Semoga di tahun 2015 saya bisa lebih banyak lagi menjelajahi Indonesia. Cinta Alam, Cinta Indonesia!

Kerja Sosial ini adalah program kerja rutin yang diadakan setiap dua tahun sekali, mengambil lokasi di luar pulau Jawa dengan berbagai pertimbangan mengenai tingkat kesehatan gigi mulut di daerah tersebut. Tahun 2014 ini, Kerja Sosial diadakan di provinsi Nusa Tenggara Barat dengan dibagi ke empat daerah, yaitu Desa Suela dan Desa Senyiur di Pulau Lombok, Desa Sermong dan Desa Lopok di Pulau Sumbawa.

ย Image

Berangkat dari Jakarta tanggal 20 Juni, sehari lebih awal dari pembukaan acara karena kami berencana untuk berjalan-jalan sendiri diluar program acara, yaitu mengunjungi Kepulauan Gili untuk diving atau snorkling.

Image

Keesokan harinya adalah saatnya pembukaan acara, selayaknya kami disambut oleh pemerintah setempat. Pembukaan ini dilangsungkan di malam hari sehingga saya dan teman-teman tidak membuang waktu kami di pagi hari untuk tidak mengunjungi keindahan Pulau Lombok lainnya, yaitu Pantai Mawun.

Imagepantai Mawun

Image

Tari Dewi Anjani dari NTB untuk menyambut tamu

Di hari ketiga, kami berpencar ke empat desa untuk disana tinggal selama tiga hari dan melakukan kegiatan-kegiatan kerja sosial. Saya sendiri ditempatkan di Desa Sermong, Sumbawa Barat sehingga perjalanan saya dari Kota Mataram pun menggunakan jalan darat dan jalan laut (kapal ferry) melalui pelabuhan Kayangan dan pelabuhan Pototano.

Image

Selama tiga hari saya berada di tempat pengobatan gigi mulut dan bertugas sebagai operator. Siapa sangka dari target awal yang di tetapkan 250 tindakan (per daerah), kami mengerjakan lebih dari 300 tindakan. Terimakasih dosen supervisor yang sudah mengawasi dan membantu kami mengerjakan pasien-pasien ini. Setiap harinya kami melakukan pengobatan hingga sore, sehingga selepas itu bisa berjalan-jalan melihat keindahan alam di Pulau Sumbawa.

ImageBermain di Pantai Maluk

Image

Benete Bay

Di pantai Jelenga saya sempat berkenalan dengan seorang pendatang asing dari Afrika Selatan yang sudah menetap di Indonesia selama 4,5 tahun. Kami banyak berbicara tentang betapa mengagumi nya keindahan alam Indonesia. Satu hal yang menurut saya sangat miris adalah ketika dia menceritakan sedihnya melihat banyak sampah bertebaran di pantai ini yang dibuang oleh para penduduk lokal. Sampai akhirnya dia membuat eberapa tempat sampah di kawasan pantai ini. Well, i have to agree.. Saya pun sedih melihat kurangnya kesadaran penduduk lokal untuk membuang sampah pada tempatnya.

Image

Pantai Jelenga

Selama berada di Desa Sermong, saya tinggal di rumah Pak Jamaludin dan Ibu Rosmini (warga setempat). Anak permpuan bungsu mereka bernama Nabila senang sekali bermain dengan kami. Keluarga yang menyenangkan. Bahkan kami sempat dijamu untuk makan malam walaupun sebenarnya kami sudah mendapat konsumsi dari panitia. Dan pada hari terakhir kami berada di Desa Sermong, keluarga ini memberikan salam perpisahan yang sangat manis.

Image

Kembali ke Mataram, Pulau Lombok untuk melakukan city tour dan penutupan acara. Mengunjungi Desa suku Sasak Sade dan Tanjung Aan. Kebiasaan suku Sasak yang unik menurut saya adalah kepercayaannya untuk mengepel lantai rumah dengan kotoran kerbau setiap seminggu sekali, ‘wow’ sekali bukan?

Image

Desa Sasak Sade

ImageTanjung Aan

Hari terakhir berada di Nusa Tenggara Barat, saya dan teman-teman merasa sudah cukup melihat keindahan pantai di sini sehingga kami memutuskan untuk bermain di air terjun Benang Setokel dan Benang Kelambu. Untuk melihat air terjun tersebut, kami harus melakukan tracking sekitar 20 menit. Menjelang pulang, kami ditawari untuk melompat dari tebing air terjun dengan ketinggian 10 meter. Saya mencoba lompat dan ternyata pendaratan yang salah membuat saya mendapat oleh-oleh lebam di kaki kanan dan kiri, tapi pengalamannya tetap seru dan menyenangkan.

ImageAir Terjun Benang Kelambu

Image

The jumpers

terimakasih Kersos FKG UI, terimakasih Nusa Tenggara Barat!

 

poster posbindu

 

Stase public health ini kurang lebih dijalankan selama 1,5 bulan atau tepatnya 7 minggu di kelompok B 2009. Kami merencanakan beberapa program, salah satunya adalah program promotif untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut di Posbindu Buah Hati Bunda. Satu bulan sebelum kami memasuki stase ini, kelompok sebelumnya juga sudah membuat program kesehatan gigi dan mulut di Posbindu Buah Hati Bunda, yaitu berupa pemeriksaan status gigi dan penyuluhan kesehatan gigi mulut secara umum. Ternyata ditemukan fakta bahwa semua peserta Posbindu Buah Hati Bunda mengalami kehilangan gigi, yup! surprising fact.. apalagi rata-rata usia peserta adalah 59 tahun (belum bisa dikategorikan lansia) dan yang lebih ‘wow’ lagi rata-rata kehilangan gigi per orang adalah 11 (bisa dikatakan 1/3 dari seluruh jumlah gigi yang dimilki setiap orang). Bisa dibayangin ga sih kalau dihitung pakai asumsi kehilangan gigi dengan usia, setiap orang kehilangan 1 gigi setiap 5 tahun ckck. Nah karena dari fakta itu, kami memutuskan untuk melanjutkan program promotif kesehatan gigi dan mulut yang berkaitan dengan kehilangan gigi, yaitu penyuluhan mengenai akibat kehilangan gigi dan pentingnya menggunakan gigi tiruan. Sebelumnya kami mengukur tingkat kebutuhan dan permintaan subjektif peserta dengan menggunakan kuisioner yang kemudian dibandingkan dengan pertanyaan evaluasi setelah diberikan penyuluhan, hasilnya berbeda bermakna lho. Perbedaan hasil yang terjadi bisa menyatakan bahwa ternyata tingkat pengetahuan peserta tentang akibat kehilangan gigi dan pentingnya penggunaan gigi tiruan masih rendah sebelum adanya program ini. Semoga program yang kami buat bermanfaat untuk para peserta Posbindu Buah Hati Bunda, Puskesmas Serpong 01, dan tentunya kelompok kami sendiri untuk dapat lulus stase ini dengan nilai yang baik.